1000 Beasiswa S1 untuk Seluruh Program Studi Perguruan Tinggi di Kab. Sumbawa



IMG_6012.JPG

Dr. Andy Tirta, Rektor Universitas Teknologi Sumbawa. Anggota Dewan Riset Daerah Kab. Sumbawa.

Memasuki akhir bulan Juli 2019 ini, bagi kami di Universitas Teknologi Sumbawa menjadi sebuah penanggalan penting. Paling tidak, ini adalah sesi di mana Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) berada di babak akhir. Terhitung 2000 orang kurang 20an, calon mahasiswa baru (camaba) mendaftar di UTS. Para camaba ini berasal dari seluruh Indonesia, sekitar 60 persen lebih berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Alhamdulillah, jumlah ini bagi kami adalah pencapaian yang luar biasa, karena biasanya pendaftaran camaba tersebut berkisar di angka 1000 tidak sampai.

Tidak bisa dipungkiri, terlepas dari prestasi atau kesan baik (good image), ketertarikan para camaba ini ke UTS salah satunya karena adanya peluang beasiswa yang disediakan. Beasiswa yang ditawarkan bervariasi, mulai dari bebas biaya DPP, sampai beasiswa yang memberikan uang saku kepada mahasiswa hingga mereka lulus. Tentu banyak orang berfikir, dari mana sebenarnya beasiswa yang diberikan (lebih tepatnya, disalurkan) oleh UTS.

Syahdan. Program beasiswa di UTS yang berlangsung sejak kampus di lembah Olat Maras ini didirikan tidak lepas dari kemampuan dan kepiawaian seorang Dr Zulkieflimansyah ‘menjual’ UTS kepada jejaring yang dimilikinya. Fenomena UTS memang unik: di daerah 3T, membawa tema teknologi, diisi oleh Dosen muda dan Mahasiswa dari seluruh Indonesia, dan tidak sedikit menghentakkan melalui prestasi hingga level internasional. Secara di atas kertas proposal, UTS memang sangat menarik sekali, banyak Donatur yang berkenan untuk mendukung UTS. Hal ini juga bisa dirasakan, di mana sekitar sebulan lalu kami sempat mengunjungi seorang petinggi di Kementrian untuk menyerahkan proposal beasiswa, di awal percakapan bahkan dimulai oleh beliau dengan kalimat: “UTS itu luar biasa konsepnya, salut saya…”. Kalimat pembuka yang seperti itu, membuat kami tentunya merasa di atas angin, “wah aman sudah, tidak perlu banyak cuap-cuap lagi”, fikir kami.

Tahun ini, sekitar 600 camaba, mendapatkan Beasiswa UTS. Pertanyaan yang melambung lainnya, dari mana sumber beasiswa mereka? Nah di sini sebenarnya banyak orang yang salah kaprah tentang UTS. Disangkanya, UTS sudah memegang dana beasiswa untuk para penerima beasiswa. Sebenarnya, belum ada sponsor yang akan menjaminkan akan menanggung 600 camaba ini. Kondisi ini kami hadapi, hampir setiap tahun dimulainya periode perkuliahan. Karenanya dalam rentang hingga Desember, ada tim khusus di UTS yang berjibaku untuk mencari dan memproses proposal beasiswa, kemana-mana. Alhamdulillah selama ini terpenuhi target jumlah beasiswa yang dicari. Kami sedikit banyak tersihir dengan istilah yang sering dimunculkan: “where there’s a will, there’s a way”,  di mana ada kemauan, insyaAllah, di sana akan ada jalannya. Ada banyak keberkahan, kemudahan dan pertolongan Allah swt di saat kita memberi kesempatan banyak orang untuk mewujudkan mimpinya melalui pendidikan tinggi, adalah hal lain yang kami yakini.

Dalam diskusi santai dengan para Pimpinan PTS di Sumbawa pasca tarawih lalu, kami sedikit banyak berseloroh dan berangan-angan, kenapa tidak ada beasiswa dalam jumlah besar, yang bisa didistribusikan secara merata untuk kampus-kampus yang ada di Kab. Sumbawa. Program ini sebenarnya bisa diinisiasi oleh banyak pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Sehari yang lalu, seorang anggota Dewan menghubungi kami, “tolong buat proposal untuk beasiswa mahasiswa”. Penulis juga teringat, masyarakat pun juga tidak mau kalah dalam urusan beasiswa untuk kuliah ini, terhitung kampus kami juga mendapat dukungan beasiswa dari RABASA (Rumah Amal Beasiswa Samawa) tahun 2016 lalu. Menarik sepertinya untuk membedah peluang amal jariyah ini.

Mari sedikit berhitung. Kita ambil standar yang berlaku nasional yaitu Beasiswa Bidik Misi. Setiap semester, sekitar 2.6 juta rupiah masuk ke rekening kampus untuk pengganti biaya kuliah mahasiswa. Apabila penerima beasiswa 1000 orang maka dibutuhkan paling tidak 2.6 milyar rupiah setiap semester, atau kurang lebih 450 juta rupiah perbulan rata-rata dialokasikan. Lalu dari mana kira-kira sumber dananya? Sumber dananya tentunya bisa beragam. Kuncinya simpel saja: gotong royong.

Sebelum lompat tentang dari mana uang tersebut, haruslah kita pahami dan sepakati urgensi dari melanjutkan pendidikan tinggi ini, dan mengapa harus di Sumbawa. Pendidikan tinggi idealnya adalah pembentuk pola fikir bagi para lulusannya. Dalam bahasa lain, seyogyanya seorang lulusan perguruan tinggi memiliki tingkat analisa lebih mendalam, sistematis dan logis dalam menghadapi permasalahan. Ketika kualitas lulusan ini baik, maka akan berefek meningkatnya perikerja, sehingga menghasilkan peningkatan apresiasi – nilai di mata pengguna/customer. Dengannya, saving dan spending di daerah akan meningkat, roda perekonomian bergerak lebih cepat, lebih maju lagi daerahnya. Begitu secara teori.

Pertanyaan lainnya, kenapa harus di Sumbawa. Lagi-lagi ujungnya juga ke urusan ekonomi dan juga sosial. Ketika uang yang dibelanjakan para pelajar dan institusi di Sumbawa, maka dapat dipastikan, akan terbuka lebih banyak lapangan pekerjaan, industri-industri kecil pendukung dan juga memberikan efek langsung kepada masyarakat dalam interaksi kampus melalui program tridarmanya. Dengan demikian, pemberian beasiswa untuk berkuliah di Sumbawa, akan memberikan kesempatan lebih luas, apalagi bagi yang berkeinginan keras untuk berkuliah namun memiliki keterbatasan dalam finansial, ditambah keuntungan lain, pembangunan perekonomian dan sosial di Sumbawa akan ikut terbantu.

Paragraf penutup, tentang dari mana uangnya, sebenarnya bisa kita buat daftar panjang jawabannya. Berapa kemampuan Pemda untuk mendukung program ini? Berapa kemampuan patungan masyarakat yang memiliki sawah luas; pemilik mesin penggiling padi; perusahaan besar dan kontraktor lokal; para diaspora Sumbawa di seluruh dunia dengan kemampuan finansial dan jaringannya? Tentu akan sangat besar jika digabungkan gotong royong ini. Bahkan bukan tidak mungkin, konsep dana abadi (endowment fund) seperti LPDP, bisa dibuat di Sumbawa. Bisa saja kita sebut saja nanti namanya: Lembaga Pengelola Dana Pang Samawa. (Her)

Humas & Protokoler

Share This:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *