Hari Film Nasional, FIKOM UTS Gelar Film Pendek



WhatsApp Image 2018-04-05 at 10.30.08FIKOM UTS bersama masyarakat Desa Poto setelah pemutaran film

Batu Alang, (01/04/2018)

Berpastisipasi dalam euphoria perjuangan dunia perfilman Indonesia pada Hari Film Nasional ke-68, 30 Maret setiap tahun, Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) juga turut menghelat screening film pendek yang digelar pada Sabtu, (31/03) di desa Poto Kecamatan Moyo Hilir, Sumbawa.

Dosen muda FIKOM UTS sekaligus penanggung jawab acara, Galuh Yanita Devi menjelaskan bahwa tujuan screening ini adalah bentuk apresiasi FIKOM untuk hari perfilman di tanah air. Meskipun merupakan debut pertama, tapi Ia (Galuh) berharap melalui pemutaran film tersebut dapat menunjukkan karya-karya mahasiswa UTS dalam mengolah permasalahan yang ada di Sumbawa. “Ini adalah debut pertama mahasiswa kami di perfilman. Jadi lewat screening ini saya ingin mempertontonkan karya mahasiswa Sumbawa yang mampu memvisualisasikan permasalahan melalui film-film,” jelas gadis ramah senyum lulusan FIKOM UTS tahun lalu itu.

Mengambil tema “Yang Muda Yang Berkarya” jelasnya, bukan tanpa landasan yang matang. Hal tersebut ditinjau dari usia perfilman di tanah air Indonesia yang masih belum terlampau tua dibanding negara berkembang lainnya. “Di usia yang ke 68 ini, kami ingin memperlihatkan bahwa sineas dari FIKOM juga memiliki skill yang lumayan dalam produksi film pendek,” ungkap gadis cantik yang pernah menjabat sebagai Dadara Samawa itu.

WhatsApp Image 2018-04-05 at 10.29.26

Sejumlah 9 buah film karya mahasiswa FIKOM angkatan 2016 yang dipertontonkan pada petang tersebut. Di antaranya adalah Dream yang bercerita tentang mimpi seorang pemuda yang menjadi kenyataan; Mobile Legends mengangkat tentang seorang mahasiswa yang amat terobsesi dengan game Mobile Legends yang berakibat terhadap kuliahnya; Dendam sebuah film yang bergendre horor; Tootybag mengisahkan seorang gadis remaja yang memiliki kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan; dan Pelarianku sekumpulan mahasiswi yang tertekan oleh tugas kuliah dan memilih untuk menikah sebagai pelariannya.

Selain itu, ditayangkan pula 3 film dokumenter yakni Berapan Kebo yang menceritakan tentang perjalanan pacuan kerbau atau Barapan Kebo; Berang Sumbawa mengisahkan  tentang parang khas Sumbawa yang mengambil lokasi di desa Batu Alang; dan Ponan sebagai sebuah tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh  3 desa, yakni Malili, Bekat, dan Poto.

Meski sempat terkendala hujan pada sesi pemutaran film, hal tersebut tidak mengurangi antusias masyarakat desa Poto, bahkan acara berlangsung cukup ramai dihadiri dari berbagai usia. Salah satu film yang mendapat apresiasi besar dari penonton Desa Poto adalah film “Dendam” yang disutradarai oleh Muhammad Zuhri Robbani. Ia (Zuhri) bahkan tidak menyangka film karya timnya ini disenangi penonton. “Banyak penonton yang tersentil oleh isu yang kami angkat, kami sangat bangga bisa mempersembahkan karya yang bisa menghibur mereka,” tutup Ismah sebagai salah satu tim dari film tersebut. (luh/van)

Share This:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − nine =