Mimpi Besar Alumni UTS Kuliah di Amerika Menjadi Nyata



Fahmi-Beasiswa-222-600x330Perjalanan Panjang Fahmi Dwi Laksono Meraih Beasiswa Fulbright

Batu Alang, (13/06/2018)

Keluarga besar Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mendapat khabar bahagia di penghujung Ramadhan 1439 H ini. Salah satu alumni pertamanya dari Program Studi Bioteknologi, berhasil mendapatkan beasiswa Fulbright untuk melanjutkan S2 ke Amerika Serikat. Adalah Fahmi Dwilaksono. Putra cerdas kelahiran 19 April 1995 ini mendapat beasiswa penuh yang didanai Pemerintah AS melalui lembaga AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Dalam beasiswa Fulbright ini di antaranya mencakup dukungan visa J-1, tiket pesawat pulang pergi (PP) Indonesia-AS, biaya kuliah penuh, biaya hidup di AS, serta biaya terkait lainnya. Selain itu, penerima beasiswa Fulbright juga memperoleh asuransi kesehatan dan kecelakaan. Beasiswa Fulbright ini boleh dikatakan puncak dari perjuangan Fahmi untuk kembali menginjakkan kakinya di Negeri Paman Sam tersebut. Sebelumnya Fahmi saat kuliah, bersama Tim Sumbawagen (semuanya mahasiswa UTS) mengikuti kompetisi International Genetically Engineered Machine (iGEM) di Boston, Amerika Serikat. Pada ajang yang dihelat 30 Oktober—3 November 2014 yang diliput secara langsung wartawan media online SAMAWAREA ini, Tim Sumbawagen berhasil meraih 4 penghargaan dunia yakni Bronze Medal, Best Policy and Practices Shouts Out, iGEM Interlab Study Award, dan iGEM Chairman’s Award—yang merupakan prestasi tertinggi di kompetisi yang diikuti ratusan universitas terkemuka di dunia. Selain kegiatan itu, Fahmi yang merupakan lulusan terbaik Universitas Teknologi Sumbawa Angkatan I Tahun 2017 ini menjadi delegasi Indonesia dalam program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) bidang Environmental Issues di East-West Center, Honolulu, Hawai’i, dilanjutkan ke Oakland Bay Area dan Yosemite National Park, California, dan Washington DC Amerika Serikat (27 September-1 November 2017).

Fahmi yang dihubungi SAMAWAREA, Selasa (12/6) kemarin, mengucapkan rasa syukur karena perjuangan panjangnya berbuah manis. Untuk mendapatkan beasiswa itu tidak mudah. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan M Ali Ismail dan Fatmah ini mengikuti serangkaian seleksi sejak November 2017, dan penutupan pendaftaran beasiswa tanggal 15 Februari 2018. “Setelah pulang dari mengikuti program YSEALI di Amerika selama 5 minggu, saya langsung menyiapkan diri untuk ikut seleksi. Waktu itu yang saya siapkan adalah mengisi form aplikasi, fotokopi transkrip dan ijazah yang dilegalisir, dua surat rekomendasi, fotokopi sertifikat tes kemampuan berbahasa Inggris (TOEFL atau IELTS), dan fotokopi paspor atau KTP. Saya kirim ke AMINEF 6 hari sebelum deadline,” ceritanya.

Dalam mengikuti proses ini hambatannya lumayan banyak. Kebetulan saat itu sertifikat TOEFL nya sudah kadaluwarsa, dan skornya masih di bawah 550. Untuk mengejar ketertinggalan ini, Fahmi menyisihkan waktu di sela-sela pekerjaannya sebagai Asisten Manager di Sumbawa Techno Park (STP) dengan belajar mandiri secara marathon dalam sebulan. Kemudian ikut tes di Mataram. Saat itu Fahmi harus bertaruh karena tes TOEFL ini satu-satunya kesempatan yang dia miliki. Tes ini hanya bisa diikutinya sekali sebelum deadline pendaftaran. Artinya, jika gagal, berarti harus ikhlas mendaftar untuk tahun depan. Saat itu juga Fahmi sempat ketar ketir karena Dr. Arief Budi Witarto, Direktur Sumbawa Technopark selaku rekomender sedang berada di Depok. Jadi surat rekomendasinya harus diantar langsung ke kantor AMINEF. “Kebetulan beliau (Doktor Arief) sedang sibuk, jadi agak khawatir kalau beliau lupa. Alhamdulillah kekhawatiran saya tidak terbukti. Sampai Pak Arief tenangin saya via WA. Kalo rejeki gak akan ke mana,” kata Fahmi meniru motivasi dari Dr. Arif.

Demikian ketika akan mengikuti wawancara ke Surabaya, Fahmi berangkat dari Bandara Sultan Kaharuddin Sumbawa. Pas mau berangkat, ternyata tiket pesawat yang dipesan bukan hari keberangkatan melainkan untuk esok harinya. Padahal barang sudah masuk bagasi. Akhirnya Fahmi memesan ulang tiket dari Lombok. Selanjutnya menggunakan sepeda motor dibonceng ayahnya mengejar Bus Damri ke Terminal Sumer Payung menuju Lombok. Sepulang dari Surabaya usai wawancara pun demikian dramatisnya. Fahmi nyaris ketinggalan pesawat pulang ke Sumbawa. Beruntung ada sahabatnya di Surabaya yang mengantarnya ke Bandara. Setelah hampir dua bulan menunggu pasca wawancara di Surabaya, tibalah pengumuman. “Alhamdulillah, saya diumumkan lolos sebagai penerima beasiswa Fulbright untuk Master Program. Ini salah satu berkah Ramadhan terbaik yang Allah kasih ke saya, sekaligus hadiah menjelang Idul Fitri,” ucap penghobby bulutangkis ini.

Fulbright salah satu beasiswa paling bergengsi dan prestisius di dunia, dan seleksinya sangat ketat. Fahmi sempat kenalan dengan kandidat-kandidat lain saat wawancara di Surabaya, dan mereka semua sangat kompeten. Ditambah lagi, Fulbright adalah beasiswa pertama yang dia daftar untuk melanjutkan sekolah. Jarang ada pendatang baru yang langsung dieterima di Fulbright. “Jadi meskipun saya kepengen, tapi berusaha realistis juga. Saya anggap ini untuk latihan saja pas awalnya. Makanya pas kemaren siang terima email (11 Juni), saya nggak berani langsung buka. Nungguin habis shalat magrib dulu baru dibuka emailnya, supaya kalo gagal biar nyeseknya sekalian aja setelah buka puasa,” ujarnya sembari tertawa.

Melanjutkan studi ke Amerika sudah menjadi mimpinya sejak masih duduk di bangku SMA. Itu merupakan mimpi besarnya. Keyakinan ini muncul ketika mengikuti iGEM tahun 2014 di Boston Amerika. Sejak saat itu mulai serius mencari-cari informasi kampus dan Profesor serta bidang riset yang dia inginkan. “Momen YSEALI bisa dibilang batu loncatan bagi saya. Selama 5 minggu di Amerika, Alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk berkunjung ke beberapa kampus, yakni University of Hawaii of Manoa di Hawaii, University of California Berkeley dan California College of Arts di California, dan George Washington University di Washington DC. Saya dapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan mahasiswa dan dosen di sana. Bahkan pas di Hawaii saya sempat diajak senior saya dari Thailand untuk mengunjungi laboratorium biologi molekuler dan sempat berbicara dengan mahasiswa S3 yang sedang ngerjain proyek biogas. Jadi selama YSEALI, kalo yang lain mungkin banyak jalan-jalan setelah kegiatan kelas, saya selalu sempatkan untuk nyari informasi kampus, sampe sebelum tidur sempatin baca beberapa jurnal yang terkait dengan bidang penelitian saya. Setelah melalui banyak hal tersebut, saya jadi semakin mantap untuk studi ke Amerika,” tutur pemuda yang pernah mengikuti Internship Research Program National Institute for Materials Science di Tsukuba, Jepang, 5 Januari-31 Maret 2015.

Dengan kepastian melanjutkan study ke Amerika ini, Fahmi ingin menaikkan standar pendidikan tinggi di Sumbawa. “Kita mahasiswa Sumbawa nggak kalah dengan mahasiswa daerah lain. Kita juga bisa sekolah tinggi-tinggi, asalkan benar-benar punya niat, mau berusaha, dan selalu melibatkan Allah dalam setiap usaha kita. Masalah berhasil sama gagal itu urusan rezeki dari Allah, yang penting jangan berhenti usaha,” pesannya mengakhiri wawancara ini.

Sementara itu Pendiri UTS, Dr. H. Zulkieflimansyah SE., M.Sc langsung mengucapkan selamat atas keberhasilan Fahmi Dwilaksono. “Selamat kepada Fahmi Dwi Laksono atas prestasinya terpilih sebagai Penerima Beasiswa Prestisius Fullbright untuk melanjutkaan Studi Pascasarjananya di Amerika Serikat. Perjuangan yang tidak mudah. Semua indah pada waktunya,” demikian tulis Dr. Zul di laman Facebooknya (Bang Zulkieflimansyah). (JEN/SR)

Share This:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − eight =