SKK Migas-Jabanusa gelar Kuliah Umum Berkualitas di UTS



SKK Migas-Jabanusa gelar Kuliah Umum Berkualitas di UTS

“Dikehidupan Masyarakat modern, kita selalu bergantung dengan migas. Tidak mungkin kita hidup tanpa energi. Dan Indonesia, 70 % APBN masih bergantung pada perolehan migas.” Tutur Dr. Ali Masyhar, Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa (Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) dalam sambutannya di Kuliah umum SKK Migas di Universitas Teknologi Sumbawa pada Rabu, 23 November 2016. Kuliah umum dengan tema “Struktur Geologi dan Potensi Migas di Sumbawa” dihadiri oleh 100 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa seluruh program studi di UTS. Selain itu, juga turut hadir Anggota DPR RI Komisi 7, Dr. Zulkieflimasyah, M.Sc, Rektor UTS, Dr. Andi Tirta, M.Sc dan juga Kepala Geologi Kementrian ESDM, Dr. Ir. Wafid, M.Sc dimana dalam kesempatan ini juga menjadi pemateri dalam kuliah umum yang berlangsung di Aula Serbaguna UTS tersebut.

Dalam kuliah umum yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam tersebut, Dr.Ir. Wafid, M.Sc menyampaikan materi yang berjudul “Peran Badan Geologi Dalam Optimalisasi Ekplorasi Migas” dengan langsung dimoderatori oleh Amirin Kusmiran, S.Si, M.T, Ketua Program Studi Teknik Metalurgi dan Material UTS. Dalam pemaparannya, Dr.Ir. Wafid, M.Sc menjelaskan bagaimana Badan Geologi berperan dalam memetakan struktur tanah berdasarkan sedimentasi yang tercipta dari patahan dan lipatan. Tidak pula ketinggalan pembahasan mengenai pemetaan struktur sedimentasi yang terjadi di Sumbawa. “Sumbawa dikelilingi oleh cekungan-cekungan yang berpotensi adanya migas, seperti cekungan Flores utara, cekungan Bali-Lombok Utara, Cekungan Sumba selatan, dan beberapa cekungan lainnya. Namun umur dari sedimen yang terdapat di Sumbawa masih berumur tersier. Sedangkan untuk proses ekploitasi dibutuhkan sedimen yang berumur pra-tersier.” Tuturnya secara teknis kondisi geologi migas di Sumbawa.

dsc_2822

Setelah memaparkan materi yang ringkas dan cukup padat kepada peserta kuliah umum, moderator juga membukan sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh peserta kuliah umum tersebut. Salah satu pertanyaan menarik dari M. Nur Fatoni, Mahasiswa Teknik Mesin UTS yang menayakan tentang dryhole atau pengeboran yang ternyata kosong minyak. “bagaimana jika terjadi pengeboran yang ternyata diwilayah tersebut kosong minyak, dan bagaimana tindakan serta dampak yang terjadi pada lingkungan?” tanyanya. Dr. Ali Masyhar menjelaskan bahwa dunia migas adalah salah satu sector yang paling tinggi upstreamnya. Mengebor harus dibutuhkan keyakinan dengan data yang jelas, sebab dana yang dibutuhkan untuk mengebor di satu titik tidaklah sedikit. “dibutuhkan dana ratusan miliyar untuk mengebor disatu titik, sementara ini presentase kesusksesan mengebor hanya 20-30 %, jadi sekitar 3 dari 10 titik yang berhasil.” Jelasnya. Ia juga menabahkan bahwa pengeboran itu merupakan highrisk  atau padat resiko, baik dari segi finansial yang dikeluarkan, juga alat-alat teknologi yang digunakan. “Oleh karena itu pemerintah tidak pernah mengelurakan anggaran untuk proses pengeboran, jadi para investor-investorlah yang melakukannya Jadi apabila hasilnya ternyata kosong, ya wassalam.dan apabila ternyata ada, maka bianyanya akan diganti oleh pemerintah dari hasil minyak yang diperoleh.” Lanjutnya.

Dr.Ir. Wafid juga menambahkan bahwa hasil dryhole sebenarnya tidak benar-benar merugi. “dari segi dana tidak semuanya sia-sia, kita bisa mendapatkan info grafik dan bar untuk menganalisis wilayah di sekitar pengeboran.”jelasnya. Selain itu, berbicara mengenai dampak lingkungan pasca dryhole tersebut, wilayah seputaran titik akan ditutup dan tidak boleh dilakukan pembangunan untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Tidak hanya sebatas memberikan pemaparan mengenai bagaimana kondisi fisik geologi di Sumbawa, Dr.Ir. Wafid, M.Sc ditemani oleh Dr. Ali Masyhar juga menjawab beberapa pertanyaan dari mahasiswa seputaran materi dan SKK Migas.

dsc_2998

Dari pemaparan sisitematis dan teoritis yang diungkapkannya, Tri Akhmad Firdaus, Mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material UTS memepertanyakan bagaimana kondisi teknis dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi dilapangan sebagai seorang geologi. Sebagai seorang geologi, Dr.Ir. Wafid menjelaskan kendala-kendala yang akan dihadapi dilapangan tentu tidak sedikit. “dimulai dari kendala teknis, social budaya, dan juga lapangan” ungkapnya. Yang paling berpengaruh bagi seorang geologi adalah ketika ia harus turun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan Masyharakat. Sebab, kondisi masayrakat yang masih awam membuat kendala tersendiri terhadap proses identifikasi yang dilakukan.

“Lantas bagimana dengan Sumbawa ?” salah satu pertanyaan tercetus dari Ali Syahidulah, Mahasiswa Teknik Sipil UTS yang mempertanyakan bagaimana dan kapan Sumbawa diidentifikasi dan ekplorasi. “Sudah!” tutur Dr.Ali Masyhar. Sumbawa sudah diidentifikasi dan dipetakan, contoh salah satu tempat yang sempat menjadi sorotan adalah Pulau Satonda. “Disana sudah ada investor yang melakukan ekplorasi pada tahun 2013 lalu, HCML-Haskie, salah satu perusahan asing yang melakukannya, tetapi sekali lagi belum menemukan hasil.” Seperti yang dijelaskan di atas bahwasannya Sumbawa masih pada tahap sedimen yang berumur tersier.”jadi mungkin tanah Sumbawa ini menunggu adik-adik untuk mengeplorasi dan mengekploitasinya bukan orang dari lain.” Ujar Dr.Ali Masyhar memberi semangat kepada peserta kuliah umum.

Diakhir kulaih umum, para pemateri memberika motivasi yang besar kepada peserta kuliah umum agar dapat menjadi bagian dan proses SKK Migas khususnya dalam ekplorasi dan ekploitasi migas di Sumbawa kedepannya. (NDP/Humas Universitas Teknologi Sumbawa)

 

Share This:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 5 =