DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS NERACA AIR DI KECAMATAN PRAYA BARAT

LALU HERI RIZALDI S.TP., MT

(Dosen Teknologi Industri Pertanian, Universitas Teknologi Sumbawa)

Pembangunan yang berkelanjutan, aspek lingkungan merupakan hal dasar yang harus diperhatikan. Aspek lingkungan merupakan wujud struktur dari tanah, air dan udara yang merupakan objek kajian dari lingkungan. Kompleksnya permasalahan lingkungan mengacu pada meningkatnya permasalahan sosial budaya yang menyertai perjalanan perkembangan manusia. Efek gangguan terhadap lingkungan yang timbul sebagai akibat aktifitas manusia dengan segala permaslahanya telah dirasakan secara global. Permasalahan lingkungan tersebut baik dalam skala global maupun skala regional telah ikut mendorong kesadaran masyarakat dunia tentang perlunya pemahaman manejemen lingkungan dan kebijakan-kebijakn konservasi sumber daya alam/lingkungan pada segala tingkatan dan sektor. Interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya dapat difahami, antara lain, dengan mengacu pada persepsi manusia terhadap lingkungan alamnya dan respon manusia terhadap lingkungan.
Peningkatan jumlah penduduk dan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan
pemukiman, tentu saja akan berdampak pada peningkatan kebutuhan akan sumber
daya air baik domestik maupun non domestik serta kebutuhan air untuk sektor
lainnya seperti industri, peternakan, perikanan, pariwisata dan pertanian. Sungai-sungai yang ada di Kabupaten Lombok Tengah memiliki sifat dan kondisi air yang sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan, dimana pada musim hujan debit airnya besar sedangkan pada musim kemarau debit airnya mengalami penyusutan, sehingga diperlukan suatu kajian tentang daya dukung dan upaya dalam menjaga sumber daya air di Kecamatan Praya Barat untuk menunjang laju pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas-aktivitas lainya. Ketersediaan air di wilayah Kecamatan Praya Barat bersumber pada bendungan, sungai dan hujan. Pada musim hujan ketersediaan air melimpah sehingga petani memanfaatkanya untuk menanam padi, sedangkan pada musim kemarau ketersediaan air sangat kurang sehingga lahan pertanian sulit untuk dimanfaatkan. Perencanaan dalam menyusun suatu kebijakan untuk mengiringi pembangunan dan pemenuhuhan kebutuhan air bagi masyarakat, industri dan pertanian harus dilakukan suatu kajian tentang lingkungan hidup berdasarkan neraca air.
Ketersediaan air merupakan jumlah debit atau volume air yang berada pada suatu tempat yang bisa dimanfaatkan oleh mahluk hidup. Ketersediaan air ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah hujan, hidrologi. Siklus hidrologi suatu daerah berbeda-beda, sehingga ketersediaan airnya pun berbeda beda. Ketersediaan air ini umumnya dimanfaatkan oleh penduduk, industri, irigasi, dan lain sebagainya. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Nomor 2009, ketersediaan (Supply) air dihitung menggunakan Metode Koefisien Limpasan yang dimodifikasi dari metode rasional berdasarkan informasi penggunaan lahan serta data curah hujan tahunan. Kebutuhan air merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan atau aktifitas mahluk hidup, Dalam hal ini kebutuhan air bisa saja cukup atau defisit. Dibeberapa daerah yang memiliki siklus hidrologi yang pendek akan mengalami defisit air, sebaliknya jika siklus hidrologinya panjang ketesediaan airnya cukup. Kebutuhan air secara umum dapat dibagi dalam dua kategori yaitu kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan irigasi dan kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan non irigasi.

Analisis status daya dukung lingkungan berbasis neraca air menunjukkan perbandingan antara kondisi ketersediaan air pada suatu kondisi wilayah dengan kebutuhan yang ada. Perbandingan keduanya, diperoleh status kondisi ketersediaan air pada wilayah tersebut. Kriteria status Daya Dukung Lingkungan (DDL) air dinyatakan dengan surplus/defisit neraca air dan rasio Supply/Demand. Status daya dukung lingkungan merupakan gambaran umum yang didapatkan dari hasil perhitungan yang diperoleh dari ketersediaan air total dan kebutuhan air total. Status daya dukung lahan diperoleh dari perbandingan antara ketersediaan air (SA) dan kebutuhan air (DA) dengan ketentuan bila SA > DA, maka daya dukung lingkungan dinyatakan surplus, sedangkan bila SA < DA, maka daya dukung lingkungan dinyatakan Defisit. Keadaan surplus menunjukkan bahwa ketersediaan air di suatu wilayah tercukupi, sedangkan keadaan defisit menunjukkan bahwa wilayah tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan akan air. Guna memenuhi kebutuhan air, fungsi lingkungan yang terkait dengan sistem tata air harus dilestarikan (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2009).
Analisis ketersediaan air pada Kecamatan Praya Barat menunjukan bahwa total ketersediaan air sebesar 438515475.56 m3/tahun, dengan nilai koefesien limpasan tertimbang sebesar 0.16 m3, curah hujan rata-rata sebesar 1724.00 mm/tahun, dan luas area 16066.14 Ha.
Kebutuhan air merupakan jumlah satuan air yang dibutuhakan untuk memenuhi kebutuhan hidup disuatu wilayah tertentu. kebutuhan air sangat ditentukan oleh kebiasaan hidup, terutama dalam aktifitas sehari-hari baik dalam hal memasak, mencuci, menyiram tanaman, dan lain-lain. Penentuan neraca air didasarkan pada ketersediaan dan kebutuhan air. Penentuan kebutuhan air pada penenlitian ini, terbagi menjadi tiga yaitu kebutuhan air penduduk, kebutuhan air industri, dan kebutuhan air irigasi. penentuan kebutuhan air penduduk ditentukan berdasarkan jumlah penduduk, pentuan kebutuhan air industri didasarkan pada jumlah tenaga kerja, dan penentuan kebutuhan air pertanian meliputi kebutuhan air untuk penyiapan lahan, konsumtif tanaman, penggantian lapisan air, perkolasi, curah hujan efektif, efesiensi irigasi, dan luas areal irigasi.
Kebutuhan air penduduk merupakan kebutuhan air yang diperlukan untuk menunjang aktifitas penduduk sehari-hari. Kebutuhan air penduduk ditentukan berdasarkan jumlah penduduk dan standar kebutuhan air penduduk Penentuan kebutuhan air penduduk dihitung dengan cara mengalikan jumlah penduduk dengan standar kebutuhan air. Kecamatan Praya Barat memilki total jumlah penduduk 75.166 jiwa. Data hasil perhitungan menunjukan bahwa, kebutuhan total air penduduk sebesar 4509960.00 liter/orang/hari atau setara dengan 4509.96 m3/hari dan 1646135.40 m3/tahun.
Kebutuhan air industri merupakan besarnya jumlah air yang diperlukan untuk menunjang segala aktifitas industri, Baik itu pada kebutuhan tenaga kerja ataupun proses produksinya. Perhitungan kebutuhan air industri didasarkan pada jumlah tenaga kerja. Hasil perhitungan kebutuhan air industri Kecamatan Praya Barat menunjukan bahwa, total kebutuhan air industri sebesar 19679200.00 liter/hari atau setara dengan 19679.20 m3/hari dan 7182908.00 m3/tahun.
Kebutuhan air irigasi merupakan jumlah air yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan tanaman agar tanaman tersebut bisa berkembang dengan baik, serta menjaga keseimbangan kebutuhan air pada lahan sawah. Hasil perhitungan menunjukan bahwa, total kebutuhan air irigasi pada Kecamatan Praya Barat sebesar 36034907.97 m3/tahun. Masing-masing kebutuhan air, mulai dari kebutuhan air penduduk, industri, dan kebutuhan air irigasi, kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan total kebutuhan air total. Berdasarkan nilai kebutuhan air yang telah dihitung, diperoleh total kebutuhan air total pada Kecamatan Praya Barat adalah sebesar 44863951.37 m3/tahun. Hasil perhitungan status neraca air Kecamatan Praya Barat menunjukan bahwa total ketersediaan air sebesar 438515475.56 m3/tahun, sedangkan total kebutuhan air sebesar 44863951.37 m3/tahun, dengan selisish sebesar 393651524.19 m3/tahun. sehingga Status neraca air di Kecamatan Praya barat adalah surflus. Status tersebut menunjukan bahwa ketersediaan air pada Kecamatan Praya Barat masih mencukupi untuk menunjang kebutuhan hidup masyarakat setempat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin