ANALISIS PENYEBARAN LIMBAH GAS BUANG SERTA KEMUNGKINAN FATALITY PLTU BATU BARA LOMBOK TIMUR

Shafwan Amrullah, S.T., M.Eng.

Kepala Peneliti Energi dan Lingkungan Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Universitas Teknologi Sumbawa

Pemerintah sejak tahun 2014 telah berkomitmen dalam membangun kemandirian sumber daya listrik, baik dengan memanfaatkan peran PLN maupun dengan menggadeng swasta. Sejak tahun 2014, pemerintah sudah mencanangkan pendirian pembangkit listrik di seluruh Indonesia, yaitu dengan menargetkan produksi listrik mencapai 35 ribu megawatt (MW), walaupun saat ini pembangunan masih berjalan. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, PLN maupun Swasta yang bergerak di bidang energi listrik merencankan proses pembuatan 109 pembangkit listrik. Pembangkit ini ditargetkan dilakukan oleh pihak PLN sebanyak 35 buah dengan kemungkinan listik yang dibangkitkan sebesar10.681 MW, sedangkan sebanyak 74 proyek dilakukan oleh swasta yang memproyeksikan listrik sebesar 25.904 MW. Proyek swasta ini juga dikenal dengan istilah Independent Power Producer (IPP). Sebagian besar megaproyek tersebut diwujudkan dengan memanfaatkan pembangkitan listrik jenis bertenaga uap, atau dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dan sebagian besar menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. Sedangkan batubara yang digunakan adalah batubara jenis batubara muda. Sehingga dengan begitu, terjadi degradasi lingkungan yang nyata, dimana pembakaran batubara muda ini menghasilkan cukup banyak fly ash sampai gas SO2 yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia (Haryadi, 2017). Alasan utama penggunaan batubara jenis ini adalah faktor dari ketersediaan yang sangat berlimpah di Indonesia. Pada tahun 2020 saja, NTB diketahui telah mempunyai pembangkit lsitrik yang disuplai dari jenis PLTU berbahan bakar batubara muda (low rank coal) (Kabarbisnis, 2019). Diantaranya adalah PLTU Jeranjang yang berada di Lombok Barat. Saat ini, PLTU tersebut diketahui telah membangkitkan tenaga sebesar 75 MW dengan 3 unit pembangkitan yang ada (25 MW per unit). Masing-masing pembangkit memiliki kapasitas 25 MW (Fisu, 2018) (Suara-NTB, 2019). Selain itu terdapat juga PLTU dengan kapasitas 50 MW yang terletak di Desa Sembelia yang beralamat di Jalan Raya Sambelia, Padak Guar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat Sambelia. PLTU ini dikelola oleh PT. Lombok Energy Dinamic.

Batubara muda sendiri sebagai bahan bakar PLTU di Indonesia sangat berlimpah jumlahnya, yaitu dengan cadangan hingga 86% dari cadangan batubara Nasional. Oleh sebab itu batubara inilah satu-satunya pilihan utama dalam pengembangan sektor pembangkitan listrik di Indonesia. Saat ini, diketahui bahwa, batubara sendiri terbagi menjadi beberapa kelas utama, diantaranya adalah jenis sub-bituminus, bituminous, antrasit, dan lignit (Erik & Sancar, 2010). Untuk batubara muda sendiri tergolong batubara sub-bituminous. Jenis inilah yang tergolong jenis batubara yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Dari penelitian (Baaqy et al., 2013) batu bara yang digunakan sebagai pembangkitan listrik di Indonesia merupakan jenis low rank yang memiliki kadar kimia yang tidak terlalu bagus, dimana moisture contentnya sebesar 18,29%, 38,40% volatile matter, 12,544% jumlah ash, 30,76% total karbon, dan kadar kalor yang tidak terlalu besar, yaitu sebesar 4.739,24 kkal setiap kilogramnya. Berdasarkan kandungan tersebut dapat dikatakan bahwa, batubara jenis ini berpotensi sangat besar terhadap perusakan lingkungan dan ekosistem serta kematian bagi makhluk hidup. Beberapa penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa pembakaran batubara menghasilkan banyak gas buang yang notabene dapat dikatakan beracun. Gas yang dihasilkan antara lain adalah gas CO, CO2, NOx, SOx dan juga terdapat pengotor.

Dari semua gas tersebut, dapat dikategorikan sebagai gas yang sangat berbahaya dan beracun bagi lingkungan (Kusman & Utomo, 2017). Saat ini, diketahui pula bahwa PLTU batubara merupakan penyumbang terbesar emisi gas-gas tersebut, terlebih PLTU batubara IPP Lombok Timur tersebut. Untuk mengatasi pembuangan emisi gas di atas, PLTU batubara telah melakukan proses pengendalian pencemaran udara, akan tetapi selalu terjadi kebocoran gas buang hampir di setiap PLTU berbahan bakar batubara tersebut. Oleh sebab itu, perlu adanya kajian yang dapat memprediksi dan mensimulasi bagaimana gas buang tersebut keluar dari sumbernya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jarak aman serta keadaan yang tepat sehingga tidak terjadi kerusakan lingkungan hingga kematian jikalau terjadi proses kebocoran gas buang.
Mengacu pada potensi adanya kemungkinan terjadinya penyebaran gas buang oleh PLTU batubara ini, Shafwan Amrullah, S.T., M.Eng. yang merupakan peneliti di bidang Energi dan Lingkungan pada Program Studi Teknologi Industri Pertanain, Universitas Teknologi Sumbawa secara mandiri melakukan evaluasi tentang potensi penyebaran gas buang oleh PLTU IPP Sembelia yang berada di Lombok Timur tersebut. Shafwan sendiri berfikiran bahwa perlu adanya evaluasi dengan menggunakan simulasi khusus untuk melihat kemungkinann penyebaran dan juga kemungkinan fatality yang disebabkan oleh PLTU tersebut. Pemikiran ini didasari oleh lokasi PLTU ini sendiri berada di sekitar perkampungan dan juga tepat berada di dekat lokasi wisata gili lampu. Saat inipun, daerah sekitar PLTU memperlihatkan adanya abu terbang yang semakin lama semakin menebal. Oleh sebab itu peneliti konsern melakukan hal tersebut. Pada analisis ini sendiri, Shafwan melakukan evaluasi dan analisis menggunakan model Gaussian yang sangat populer digunakan saat ini, terutama dengan Gaussian dengan model Puff. Persamaan ini dapat memprediksi jumlah penyebaran yang dihasilkan oleh sebuah gas buang produksi tertentu sekaligus melihat berapa persen kemungkinan fatality yang diakibatkan terhadap masyarakat yang berada di sekitarnya. Pada evaluasi dan analisis ini, Shafwan memfokuskan pada gas buang berupa SO2 dan CO2, dimana kedua gas ini adalah yang mendominasi pada pembuangan gas buang sebuah PLTU dengan bahan bakar batubara.
Shafwan Amrullah selama 2 minggu pengujian ini menemukan bahwa berdasarkan penggunaan model dispersi Gasussian menggunakan jenis puff, dapat disimpulkan bahwa terjadi trend peningkatan konsentrasi penyebaran SO2 oleh pembakaran batubara muda PLTU Sembelia setiap detiknya ketika jarak dispersi ditambahkan, selanjutnya berkurang hingga 0 ppm. Konsentrasi SO2 yang dihasilkan meningkat pada 2.000-42.000 meter dari 6,876×10-46 ppm hingga 1,276×10-5 ppm. Setelah itu terjadi penurunan hingga konsentrasi bernilai 0 ppm. Untuk hasil simulasi kemungkinan kematian (%fatality) oleh SO2 memperlihatkan nilai 0% pada semua jarak perhitungan, bahkan pada 4 titik yang telah ditentukan Selain itu, terjadi trend peningkatan konsentrasi dispersi CO2 pada proses pembakara batubara muda PLTU Sembelia setiap detiknya ketika jarak dispersi ditambahkan lalu menurun hingga 0 ppm. Konsentrasi CO2 yang dihasilkan meningkat pada 2.000-58.000 meter dari 62,47×10-63 ppm hingga 7,9×10-4 ppm, yang selanjutnya menurun hingga 0 ppm. Untuk hasil simulasi kemungkinan kematian (%fatality) oleh CO2 memperlihatkan angka 0% pada semua jarak perhitungan, bahkan pada 4 titik yang telah ditentukan. Artinya dengan adanya hasil tersebut, memperlihatkan bahwa potensi penyebaran gas buang SO2 dan CO2 yang dihasilkan oleh pembakaran batubara PLTU Sembelia Lombok Timur ini terjadi peningkatan setiap detik, walaupun tidak berdampak langsung terhadap lingkungan. Selain itu dengan hasil yang diadapatkan ini juga memperlihatkan kemungkinan terjadi kematian oleh pembunangan ke dua gas buang tersebut dapat dikatakan aman, atau tidak mempengaruhi masyarakat secara langsung. Akan tetapi, selanjutnya perlu adanya pengujian khusus terhadap pembuangan fly ash oleh PLTU IPP Lombok Timur ini, sebab dampak yang ditimbulkan akan semakin bebahaya jiga tidak ditangani dengan cermat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin