Atasi Permasalahan Sampah, UTS Ciptakan Batako dari Limbah Plastik
Oleh: Direktorat Riset dan Inovasi UTS

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) hadir untuk menjawab segala permasalahan di tengah masyarakat, termasuk permasalahan persampahan. Mengutip Nusra Media, produksi sampah yang dihasilkan 24 Kecamatan se-Kabupaten Sumbawa mencapai 535.184,90 kubik per tahun. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Sumbawa hanya dapat mengatasi sekitar 17,35% atau sebanyak 92.881 meter kubik saja.
‚ÄčKetergantungan masyarakat dalam melakukan aktivitas menggunakan plastik, terutama bahan plastik sekali pakai seperti bungkus makanan dan botol minuman menjadi salah satu penyebabnya tingginya limbah plastik. Penggunaan plastik secara terus-menerus sangat berpotensi memunculkan masalah di kemudian hari karena tidak diiringi dengan rencana daur ulang yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Jika sampah plastik dibuang ke tanah, maka akan mengurangi kualitas tanah dan merusak air tanah.
Menanggapi hal tersebut, UTS berkomitmen menghadirkan teknologi inovasi yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis, yakni dengan membuat batako berbahan dasar plastik. Batako merupakan bahan bangunan yang biasanya digunakan untuk pemasangan dinding tembok, maupun lantai. Inovasi yang diberi nama batako plastik ini terbilang ramah lingkungan, lantaran dalam pembuatannya memanfaatkan limbah yang sudah tidak lagi memiliki nilai ekonomis dan sampah yang sulit terurai. Selain plastik, bonggol jagung merupakan jenis sampah yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan batako tersebut. Mengingat Pulau Sumbawa merupakan salah satu kabupaten penghasil jagung terbesar di Indonesia, dengan produksi jagung Sumbawa pada tahun 2019 mencapai 697.210 ton, pada luas areal panen 110.035 Ha, dengan produktivitas mencapai 63,36 Kw/Ha.
Dalam tahapan pembuatanya, batako plastik dengan bahan tambah bonggol jagung tersebut menggunakan plastik HDPE/PET dengan dipanaskan pada suhu leleh 180 derajat celcius. Adapun yang termasuk dalam jenis plastik HDPE/PET adalah jenis plastik lain yang cenderung padat dan keras, misalnya botol plastik minuman maupun tutup botolnya. Setelah dilakukan pelelehan, cairan plastik tersebut di campurkan dengan bonggol jagung yang telah dibakar hingga berbentuk debu, yang ukuran debu bonggol jagung tersebut lolos saringan 4,75 mm.

Setelah dicampur, selanjutnya dicetak dengan bentuk persegi dan dibuat dengan sistem interlocking. Batako langsung dapat digunakan/aplikasikan setelah mengeras (mengeras dengan suhu standar 32 Derajat Celcius). Batako tersebut dapat diaplikasikan pada dinding dan lantai.
Batako plastik dengan campuran tambahan bonggol jagung diharapkan mampu meningkatkan kekuatan batako dan mengurangi berat batako. Dengan pemanfaatan limbah plastik dan bonggol jagung yang tidak lagi dimanfaatkan, maka nilai pembuatannya cukup minim bila dibandingkan dengan batako konvensional. Pengaplikasiannya tidak perlu menggunakan semen, karena menggunakan sistem interlocking.
Walaupun demikian, batako plastik ini memiliki kekurangan, misalnya permukaan yang dihasilkan pada batako sangat halus, sehingga bila menggunakan acian mortar sangat sulit rekat. Serta dapat berubah bentuk bila menerima suhu secara langsung di atas 120 Derajat Celcius.
Inovasi ini diinisiasi oleh Hermansyah, S.T., M.Sc, Dedy Dharmawansyah, S.T.,M.T, Eti Kurniati, S.T., M.T dengan Program Studi Teknik Sipil UTS sebagai leading sector. Kedepannya, akan hadir inovasi lainnya yang bermanfaat dan menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang kerap muncul di tengah masyarakat. Tentunya, program ini tidak akan berjalan maksimal apabila tidak didukung oleh bantuan stakeholder lainnya, seperti pemerintah daerah, pegiat usaha dan akademisi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin