Dosen UTS Teliti Daun Sentalo Sebagai Obat Penyakit Udang

Berangkat dari menurunnya tingkat produksi dan tingginya kematian yang disebabkan oleh penyakit Vibriosis atau bercak merah pada udang, tiga dosen muda Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) memformulasikan daun Kirinyu atau Sentalo (Sumbawa) sebagai obat untuk mengatasi masalah yang menyebabkan 50% kegagalan pada masa panen bagi petani tambak udang tersebut.

Yulianti selaku Ketua Peneliti saat ditemui SAMAWAREA, Kamis (26/4) memaparkan setelah melakukan studi literasi, ditemukan bahwa daun Sentalo atau Kirinyu cukup potensial menghasilkan metabolis sekunder. Namun selama ini daun tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Sumbawa. Setelah dilakukan pengujian secara in vitro (laboratorium) dan in vivo (pengondisian udang sesuai dengan keadaan sebenarnya) dalam skala kecil selama 5 bulan, membuktikan daun Kirinyu dapat membunuh bakteri yang menyebabkan penyakit tersebut. Sedangkan untuk pencegahan agar sel-sel udang juga yang sudah terinfeksi tidak ikut rusak, ekstrak Sentalo dipadukan dengan daun Sirih. “Dari hasil penelitian efektif menggunakan ekstrak tersebut dengan bukti banyaknya yang hidup. Selain untuk membunuh bakteri tetapi juga merawat sel-sel Udang adalah mengombinasikan daun Kirinyu dan daun Sirih dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses penyembuhan maupun pencegahan,” ungkap gadis murah senyum itu.

Sedangkan Yuniati, anggota dari penelitian yang berjudul “Pengaruh Kombinasi Ekstrak Daun Kirinyuh dan Sirih terhadap Penyakit Vibriosis pada Udang secara In Vitro dan In Vivo” tersebut menambahkan jika sudah terjangkit, Udang akan tetap terkena penyakit selama fase perkembangannya, baik fase post larva, larva, hingga dewasa. Udang yang sudah terserang penyakit ini memiliki kemungkinan besar tidak dapat dipanen.

Saat ditanya terkait penerapan pada tambak secara langsung, Ia menyatakan perlu adanya pendekatan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbawa untuk memudahkan proses sosialisasi kepada petambak Udang. Selain untuk meyakinkan petambak, hal ini juga mendorong institusi pendidikan dapat terus berkolaborasi dengan dinas terkait dalam menemukan solusi-solusi yang selama ini dialami masyarakat khususnya berkaitan dengan perikanan dan kelautan di Sumbawa. “Petani juga sangat antusias dengan penelitian kami. Karena mereka bingung untuk melakukan apa dalam mengatasi permasalahan itu. Harapan kami produk ini dapat dikembangkan kemudian bisa diaplikasikan di tambak udang secara langsung sehingga segera membantu para petambak,” pungkasnya. (SR)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin