Ngebuts Segera Diproduksi Massal

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Berbagai karya membanggakan anak NTB mulai bermunculan saat ini. Salah satunya dengan diproduksinya sepeda motor listrik. NgebUTS misalnya, sepeda motor listrik yang merupakan karya Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Prototype sepeda motor listrik ini sudah diluncurkan, bahkan belasan produk pesanan pemprov NTB sudah selesai diproduksi. Rencananya, untuk pemasaran lebih luas, tim NgebUTS akan melakukan produksi massal dengan memberdayakan Industri Kecil Menengah (IKM) lokal di Pulau Sumbawa.

Rektor UTS, Dr. Chairul Hudaya mengungkapkan, sepeda motor listrik ini adalah buah tantangan dari Gubernur NTB untuk UTS sejak dirinya menjabat rektor pada Februari 2020 lalu. Dalam waktu tiga bulan pihaknya membuat sebuah prototype yang diluncurkan pada Juni 2020 di halaman Kantor Bupati Sumbawa. Setelah diluncurkan pihaknya mendapatkan pesanan dari pemerintah provinsi NTB kurang lebih 17 unit.

Sekarang ini pesanan tersebut sudah selesai diproduksi dengan memberdayakan IKM lokal yang berada di Desa Boak Dalam, Kecamatan Unter Iwes. Selanjutnya barulah akan diproduksi lebih luas untuk pemesanan dari masyarakat maupun instansi pemerintahan. “Jadi akan ada mungkin pemesanan nanti sebanyak 100 unit dan kita akan mulai produksi massal dengan cara memberdayakan IKM lokal yang ada di Pulau Sumbawa ini,” bebernya saat dikonfirmasi Suara NTB baru-baru ini.

Menurutnya, dalam pembuatan awal, pihaknya memiliki empat prototype. Ada yang dibuat desainnya dari awal, dan ada juga yang sistemnya konversi. Karena produk yang dibuat adalah sepeda motor listrik, bukanlah motor listrik. Dibandingkan motor listrik, kapasitasnya lebih kecil baik baterai maupun motornya. Tetapi keunggulannya bisa dikayuh karena memiliki pedal. “Jika pedalnya dikayuh, maka jarak tempuhnya menjadi lebih jauh. Karena ada sebagian energi yang bisa di-charging ke dalam baterai. Sekali charging kurang lebih Rp 1.000. Karena 0,7 KWH baterainya. Kemudian charging waktunya 3 sampai 4 jam. Kemudian dia bisa menjelajah sampai 33 km tanpa dikayuh. Tapi dengan dikayuh bisa mencapai kurang lebih 36 sampai 40 kilometer. Tergantung berat pengendaranya. Karena semakin berat tentu saja daya jelajahnya akan semakin rendah. Tetapi semakin ringan beban daripada drivernya maka dia akan semakin jauh,” terangnya.’

Terhadap sepeda motor listrik ini, pihaknya sudah menyelesaikan produksi 17 unit yang dipesan pemerintah provinsi. Selanjutnya, rencana ke depannya adalah bagaimana membuat industry yang lebih besar. Tentu saja melalui kerjasama dengan investor ataupun pabrikan yang memiliki teknologi yang sudah cukup baik. “Jadi sekarang sedang ada kajian ke arah sana (kerjasama red). Tapi kita sudah siapkan sih nanti akan ada mungkin investor atau pihak-pihak untuk supaya motor listrik bisa diproduksi dengan jumlah yang besar. Tapi sementara ini kita masih membuka sistemnya orang pesan sekarang, mungkin sebulan atau dua bulan baru mendapatkan barangnya. Ini untuk tahap awalnya seperti itu,” ujarnya.

Adapun komponen utama sepeda motor listrik saat ini masih dipesan dari Jakarta yang didatangkan dari Cina. Seperti motor listrik itu sendiri, baterai dan controller. Karena ketiga komponen tersebut belum diproduksi di Indonesia. Tetapi komponen-komponen lain, seperti aksesoris, rem, cakram dan lainnya sudah banyak diproduksi di dalam negeri. Kemudian untuk rangka dibuatkan sendiri dari besi yang ada di pasaran lokal. “Kalau aksesoris sangat mudah didapatkan di masyarakat. Yang sulit ketiga komponen tadi dari luar negeri. Ke depan diharapkan kampus ini bisa menjadi tempat penelitian dan pengembangan khususnya untuk ketiga komponen tadi. Jadi UTS ini bermimpi para dosennya itu bisa mendesain, merancang motor listrik, untuk kemudian nanti suatu hari walaupun kita tidak bisa membuat industry manufactur daripada manufactur motor listrik, bisa saja kita manufacturnya di tempat lain. Misalnya di Cina atau di negara lain untuk kemudian bisa nanti di manufacturnya di tempat sana. Tetapi desainnya, tata letaknya, dan lainnya yang mendesain civitas akademika dari UTS. Jadi kami punya semangat , di era refolusi industry 4.0 ini, yang paling penting itu supaya kita bisa mengejar ketertinggalan teknologi maupun ekonomi, caranya dengan kolaborasi. Tanpa kolaborasi kita tidak akan bisa,” harapnya.’

Pihaknya juga menginginkan ke depannya produk yang dihasilkan UTS dengan memberdayakan IKM lokal mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Selain ini sinergi yang sudah terbangun dengan pemerintah diharapkan dapat berlanjut. (ind)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin