UTS Jadi Tuan Rumah Penyelenggaraan Konferensi International APO 2021


Asian Productivity Organization (APO) adalah organisasi antar pemerintah yang didirikan pada tahun 1961 yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas di kawasan Asia Pasifik secara mutual kerja sama. APO berkontribusi pada pembangunan sosioekonomi berkelanjutan daerah melalui layanan konsultasi kebijakan dan upaya peningkatan kapasitas kelembagaan.
Konferensi APO merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi ini bertujuan untuk menambah pengetahuan penyebaran isu-isu paling mendesak yang dihadapi masyarakat. Ancaman perubahan iklim terhadap mata pencaharian, ketahanan pangan, dan produktivitas merupakan isu vital bagi anggota Asian Productivity Organization (APO). APO yang berkantor pusat di Tokyo, senantiasa menyebarkan informasi tentang teknologi inovasi, kebijakan serta membagikan gagasan dan praktik terbaik untuk dapat meningkatkan produktivitas dalam perubahan iklim.

Pada tahun ini Indonesia dipilih sebagai tuan rumah Konferensi International APO 2021. Mengusung tema “Climate-Resilient Agriculture”, APO yang bekerjasama dengan Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian RI mempercayakan Universitas Teknologi Sumbawa sebagai panitia penyelenggara konferensi. Konferensi internasional ini merupakan bagian dari program APO untuk mengatasi perubahan iklim dan memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, khususnya Goal Nomor 13; Tindakan untuk Memerangi Perubahan Iklim dan dampaknya. Program ini menjadi wadah pertukaran informasi serta kontribusi untuk berbagi ilmu pengetahuan dan pemutakhiran teknologi dalam meningkatkan ketahanan produktivitas pertanian di tengah perubahan iklim, khususnya bagi negara-negara anggota APO.

Konferensi international APO 2021 dilaksanakan secara daring pada Selasa, 09/03/2021 tersebut dibawah arahan Rektor UTS oleh Direktorat Kerjasama Luar Negeri, Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama UTS. Konferensi diikuti oleh 100 orang peserta dari 13 Negara anggota APO yaitu, Bangladesh, Cambodia, India, Indonesia, Islamic Republic of Iran, Malaysia, Nepal, Pakistan, The Phillippines, Republic of China, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam.

Dimoderatori oleh Direktur Direktorat Kerjasama Luar Negeri UTS Eri Sofiatry, M.Sc, panel diskusi menghadirkan 5 Pemateri ahli diantaranya, Dr. Arief Budi Witarto (Director Of Sumbawa Techno Park, Indonesia) dengan materi Role of Techno Park to Support Sustainable Farming in UNESCO Appointed Biosphere Reserve of SAMOTA. Mr. André Leu (International Director, Regeneration International, Australia) materi Regerating Soil to Increase Adaptation to and Mitigation of Climate Change.Mr. Harjeet Singh (Global Lead of Climate Change ActionAid International, India) dengan bahasan Participatory Assessment of Climate Impacts on Agriculture and Social Enterprises. Dr. Ahmed Salahuddin (Consultant, International Rice Research Institute, Bangladesh) menyampaikan materi Collective Extension Approach to Climate-smart Alternate Wetting and Drying Technology, dan Drh. IB Windia Adnyana Ph.D (Coordinator of Regional Development Acceleration for West Nusa Tenggara, Lecturer at graduate school of Environmental Science, Udayana University) menjadi pemateri kelima yang menyampaikan bahasan terkait Innovation Strategic in Regulation for Climate-Resilient Argiculture, Case Study: West Nusa Tenggara.

Diskusi panel tersebut berlangsung selama 6 jam dan menghasilkan beberapa poin penting yang dapat disimpulkan, bahwasannya saat ini sektor petanian menjadi fokus penting dalam upaya penanganan perubahan iklim. bencana alam yang kian marak adalah salah satu contoh nyata semakin buruknya kondisi iklim dunia. Untuk mengatasi hal tersebut sangat perlu menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya pendekatan pertanian. Jika dulu pertanian dianggap sebagai penyebab utama perubahan iklim/penyumbang emisi terbesar, hari ini sektor pertanian justru berbalik menjadi solusi untuk memperlambat efek perubahan iklim dan mengurangi emisi CO2.

Membuka konferensi secara resmi, Rektor UTS Chairul Hudaya, Ph.D menyampaikan, “UTS merasa terhormat telah dipercayai menjadi tuan rumah/penyelenggara konferensi ini. Tidak hanya karena sifatnya yang global tetapi juga dapat memberikan juga nilai dan objektif kepada kami. UTS didirikan untuk mengkatalisasi pembangunan di Sumbawa dan kawasan Indonesia Timur dan memastikan bahwa hal itu sejalan dengan upaya kelestarian lingkungan kita. Saat kita berbicara tentang ketahanan lingkungan (Environmental Sustainablity), maka kita juga berbicara tentang masa depan ketahanan pangan, masa depan dari ruang yang kita tempati serta masa depan peradaban manusia.

Di UTS, kami berkomitmen untuk berusaha dengan baik untuk berpartisipasi dalam penanganan isu seputar kelestarian lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim. Kami mengarahkan pekerjaan kami dan dampaknya terhadap lingkungan kami ke arah ketahanan yang mapan.Kami baru saja memasang panel surya 25.000 WP yang memasok kebutuhan energi kampus. Kemudian peluncuran Sepeda Motor Listrik dengan brand kami sendiri yaitu NgebUTS kendaraan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Hal ini karena kami menyadari bahwa salah satu tantangan institusi pendidikan tinggi di abad ke-21 adalah menjaga relevansinya dengan lingkungan. ” Tutur Chairul.

Lebih jauh Bang Irul akrab Rektor UTS disapa menuturkan, “Kami sadar bahwa universitas kami beroperasi dalam dunia global dan dalam dinamika global dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, kami baru saja merestrukurasi kurikulum kami untuk mendorong mahasiswa dan fakultas untuk terhubung dan berpartisipasi dalam atmosfer global serta terlibat dalam menciptakan manfaat bagi masyarakat lokal yang merupakan komunitas agraris.

Seperti dalam program KKN, mahasiswa dapat merangkul dan berkolaborasi dengan masyarakat lokal dalam praktik pertanian. Mereka menawarkan solusi yang mereka pelajari di kampus seperti menciptkan pupuk organik dari limbah yang berada di sekitarnya. Konferensi ini diharapkan akan menjadi kolaborasi yang berkelanjutan anatar UTS dengan semua pihak yang terlibat untuk bersama-sama mengatasi isu yang paling mendesak yang dihadapi oleh komunitas kita.” Pungkas Rektor UTS.


Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin