PENGEMBANGAN PAKAN SAPI BERBASIS PETERNAKAN RAKYAT DI LAHAN & KERING DI PULAU SUMBAWA NTB

HUSNI, S.Pt., M.Si
Dosen Program Studi Peternakan
Fakultas Teknobiologi
Universitas Teknologi Sumbawa
 
 
Pulau Sumbawa merupakan salah satu sumber sapi nasional dimana petani umumnya menerapkan sistem integrasi tanaman pakan ternak sebagai sumber pendapatan. Produktivitas sapi yang rendah di wilayah pulau Sumbawa ini sudah tercatat dalam beberapa studi penelitian terdahulu. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan untuk meningkatkan produktivitas sapi di wilayah Sumbawa yang beriklim kering dengan melihat berbagai sistem pemeliharaan yang sudah ada. Di sepanjang perjalanan saya dari Sumbawa menuju Dompu rata-rata pola pemeliharaan sapi dengan sistem ekstensif di daerah padangan umum penggembalaan Lar bahasa Bima Dompunya adalah So. Rata-rata sistem pemeliharaan dengan lahan pribadi dengan tujuan pembiakan.
Permasalahan utama pada sistem Lar di Sumbawa ini mengakibatkan produktivitas rendah. Akan tetapi, tidak banyak yang telah dilakukan oleh petani untuk mengatasinya karena mereka beranggapan hal tersebut bukanlah sebuah masalah. Di sisi lain, ada potensi yang besar untuk mengatasi masalah tersebut dengan memanfaatkan sisa tanaman padi dan jagung yang tersedia melimpah setiap tahun.
Tulisan ini menyimpulkan bahwa secara sosial budaya, sIstem lar memiliki peluang untuk pengembangan sapi di Sumbawa. Akan tetapi tantangan utamanya adalah mencukupi pakan yang berkualitas serta penyadaran petani untuk merubah perilaku dalam penyediaan pakan bagi ternaknya. Saya melihat disatu sisi bahwa sumber pakan yang potensial selama ini masih belum dimanfaatkan secara utuh yaitu sisa tanaman padi dan jagung. Pulau Sumbawa juga telah ditetapkan sebagai salah satu lumbung jagung nasional terutama wilayah Sumbawa, Dompu dabn Bima sebagai salah satu penghasil jagung terbesar. Limbah jagung dan padi disepanjang jalan lintas Sumbawa sangat berlimpah, bila dimanfaatkan akan sangat bernilai. Untuk Sumbawa, Dompu bahkan di Bima belum memanfaatkan sisa tanaman jagung sebagai sumber pakan ternak semestinya telah dapat mengatasi masalah kekurangan pakan dan meningkatkaan produktivitas sapi. Hanya saja, hal tersebut belum terjadi. Banyak petani masih membakar jerami dan dibuang begitu saja. Bila dikelolah akan bernilai nutrisi pakan  untuk ternak sapi.
Dalam benak pikiran saya jika hal ini dikembangkan terutama untuk pengembangan sapi di Pulau Sumbawa jauh lebih besar dibandingkan di Lombok. Akan tetapi Sumbawa didominasi oleh daerah kering dengan hanya rata-rata empat bulan hujan setiap tahun. Karena itu masyarakat di Pulau Sumbawa menerapkan sistem integrasi tanaman pangan – ternak dengan sapi sebagai ternak utama sebagai sumber pendapatan. Walaupun sapi memegang peranan penting mendukung perekonomian petani, namun produktivitas sapi Bali di Nusa Tenggara termasuk Pulau Sumbawa selama ini masih rendah karena sistem pemeliharaan yang intensif dengan mengandalkan alam sebagai sumber pakan.
Permasalahan utama adalah Kekurangan pakan terutama pada musim kemarau merupakan permasalahan klasik. Sapi umumnya dilepaskan berkeliaran di tempat-tempat penggembalaan dengan kualitas hijauan pakan rendah pemeliharaan sapi di Pulau Sumbawa yang kering dan mengeksplore peluang serta tantangan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi di wilayah tersebut. Secara umum bahwa jika dilakukan kajia-kajian, penyuluh akan lebih banyak memahami dan memberikan perspektif strategi peningkatan produktivitas sapi pada kantung-kantung ternak terutama di wilayah Pulau Sumbawa yang di didominasi oleh lahan kering, dengan memanfaatkan limbah tanamaan pangan yang tersedia melimpah di daerah tersebut. Hal ini perlu dilakukan kerja sama masyarakat dan pemerintah untuk saling bahu membahu untuk peningkatan produktivitas peternakan sapi dengan penerapan inovasi dan teknologi tepat guna.
Dua minggu yang lalu kami sempat diskusi dengan Bapak Rektor UTS Bapak Chairul Hudaya., Ph.D bersama anggota OMT- UTS Sumbawa pada tanggal 24 September 2021, bagaimana mengembangkan sistem peternakan sapi untuk penggemukan di lokasi olat Maras UTS Sumbawa. Salah satu menjadi permasalahan  besar untuk mengembangkan produktivitas sapi di Sumbawa adalah memperbaiki kualitas pakan.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut perlu dilakukan langka-langkah dengan melakukan penyuluhan dan pelatihan bagaimana kita memanfaatkan lahan – lahan kering dijadikan sebagai sumber tanaman pakan. Melihat kondisi alam secara langsung bahwa produktivitas ternak sapi di Pulau Sumbawa masih rendah antara lain karena keterbatasan sumber pakan di saat musim.
Untuk menanggulangi hal tersebut ada dua, memanfaatkan limbah jerami padi, jagung sebagai pakan ternak dan memamanfaatkan tanaman lantoro sebagai pakan ternak. Keunggulan lantoro antara lain kandungan nutrisi tinggi dengan kadar air protein kasar diatas 20%, tahan kering dan hijau sepanjang tahun. Dengan berbagai ke unggulan lantoro, ini sangat cocok dikembangkan sebagai pakan ternak utama sapi di wilayah Sumbawa khususnya di lahan kering dimana pakan menjadi permasalahan utama rendahnya produktivitas sapi. Tulisan ini memberikan informasi atau gambaran bagaimana memanfaatkan pakan lantoro sebagai sumber pakan utama sapi.
Bagimana dengan jerami padi dan jagung ? untuk jerami padi dan jagung dibuat silase, hay dan amoniasi dengan melakukan fermentasi. Hal ini untuk mejaga ketersediaan pakan disepanjang tahun pada saat musim peceklik.
 
Sebagian jerami padi di pulau Sumbawa tidak dimanfaatkan, karena selalu di bakar setelah proses pemanenan. Di lain pihak, sektor peternakan membutuhkan pakan (feed) yang harus tersedia sepanjang saat. Penyediaan makanan ternak merupakan persayaratan mutlak bagi pengembangan  peternakan. Makanan ternak harus tersedia sepanjang musim untuk menjaga agar harus penandaan (cash flow) dalam usaha peternakan tetap stabil. Oleh karena itu, limbah pertanian berupa jerami padi dan jagung harus di manfaatkan. Pemanfaatan jerami padi dan jagung sangat di perlukan untuk menjaga ketersediaan makanan di sepanjang waktu. Atas dasar pertimbangan itu, diperlukan penggunaan teknologi dalam mengolah jerami jagung dan padi menjadi makanan ternak yang berkualitas. Teknologi pengolahan jerami padi dan i jagung yang telah  berkembang dan mudah  pengerjaannya  adalah pengolahan dengan menggunakan tehnik Amoniasi.
Peningkatan produksi jagung akan selalu berkolerasi positif dengan tersedianya limbah jagung, baik berupa jerami, tongkol maupun dedak jagung. Penggunaan jerami jagung sebagai silase dan fermentasi dengan probiotik ternyata cukup menggembirakan, terutama pada lahan kering yang rumputnya sedikit dan petani biasanya memanfaatkan dan menyimpan jerami jagung untuk dipakai sebagai pakan dan ternak dipakai untuk mengolah lahan pertanian.
                           
Sistem Peternakan Sapi di Sumbawa Secara agro-ecology dengan gambaran umum Pulau Sumbawa dengan topografi yang berbukit dan kering dengan bulan-bulan kering yang panjang (6 – 8 bulan). Karena itu usaha pertanian didominasi dengan komoditas-komoditas toleran kering dan berumur tidak terlalu panjang seperti jagung, kacang tanah, dan kacang hijau. Karena lahan pertanian sebagian besar merupakan lahan tadah hujan dengan kepemilikan lahan sekitar 1,5-2 ha/keluarga, padi hanya ditanam di daerah teririgasi. Kondisi yang kering ini telah mendorong petani untuk menerapkan sistem usaha tani integrasi tanaman pakan –ternak. Keunggulan sapi Bali sebagai ternak yang toleran kekeringan dengan kemampuannya untuk mengubah pakan berkualitas rendah menjadi produksi dan reproduksi.
Mayoritas usaha ternak sapi di Pulau Sumbawa adalah untuk tujuan pembiakan dengan rata-rata kepemilikan sapi sekitar lebih kurang 10 – 20 ekor per keluarga, yang mana angka ini dapat bervariasi dari puluhan hingga ratusan ekor. Dalam kawanan sapi tersebut tidak ada pemisahan antara indukan, pejantan ataupun anak. Karena itu, kawin dalam keluarga (inbreeding) umum terjadi karena kelangkaan pejantan. Petani tidak melakukan seleksi pejantan dan tidak jarang mengandalkan pejantan orang lain untuk mengawini indukannya. Pejantan yang besar biasanya dijual cepat untuk pemenuhan kebutuhan keluarga dan untuk biaya tani. Akibatnya pejantan yang tersisa untuk mengawini bukanlah yang terbaik sehingga bisa diperkirakan bahwa keturunannya akaan memiliki kualitas genetik yang rendah.
Kendala untuk Pengembangan Peternakan Sapi. Dengan melihat produksi jagung di Kabupaten Sumbawa, Dompu dan Bima potensi berangkasan jagung sebagai seumber pakan sapi, masalah kekurangan pakan di daerah ini seharusnya tidak terjadi. Akan tetapi kenyataan menunjukkan kondisi yang sebaliknya. Petani masih membakar sisa tanaman jagung sementara sejumlah besar sapi berkeliaran mencari makan dengan kondisi tubuh yang kurus. Hal inilah yang menghambat untuk peningkatan produktifitas sapi khususnya di pulau Sumbawa.
Bagaimana sistem pemeliharaan sapi ?., Ada dua sistem pemeliharaan sapi di Pulau Sumbawa yang memberikan produktivitas dan pendapatan yang berbeda untuk petani. Sistem pertama adalah sistem lar atau So ekstensif dan semi-intensif baik di lahan pribadi maupun lar atau So umum dimana sapi merumput di padangan dan biasanya untuk sapi pembiakan. Sementara sistem kedua adalah sistem intensif di kandang yang biasanya untuk sapi penggemukan menggunakan lamtoro atau rumput lapangan dengan manajemen pakan sistem potong-dan- bawakan. Akan tetapi untuk mengatasi hal tersebut bahwa di sisi lain, di Pulau Sumbawa memiliki potensi besar untk perbaikan peternakan sapi dengan memanfaatkan sisa tanaman jagung (berangkasa) yang tersedi melimpah setiap tahun namun belum dimanfaatkan. Sementara itu, dengan sistem pemelihraan yang intensif untuk penggemukan sapi menggunakan pakan lamtoro memberikan nilai yang bagus bagi produktivitas sapi.
Secara sosial budaya, Kabupaten Sumbawa dengan sistem pemelihraan lar memiliki potensi untuk penngembangan peternakan sapi mengingat luas wilayahnya dan ketersediaan sisa tanaman pangan yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan yaitu berangkasan jagung. Akan tetapi kendala utama yang dihadapi adalah peningkatan kesadaran petani untuk merubah cara beternak dan cara penyediaan pakan. Sebagian besar petani masih beranggapan bahwa beternak sapi hanyalaah aktivitas sampingan dan mengandalkan alam sebagai sumber pakan. Petani masih enggan untuk mengeluarkan biaya dan tenaga tambahan untuk memperbaiki sistem produksi ternak sapinya.
Bagaimana faktor social budaya masyarakat sangat berpengaruh terhadap jenis ternak yang diusahakan. Selain itu beberapa perilaku masyarakat juga berpengaruh terhadap pola pemeliharaan ternak yang dilakukan oleh petani. Pemilikan lahan oleh petani yang rata-rata cukup luas, dan dengan pengelolaan yang sederhana saja sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga, menyebabkan para petani cenderung hanya menggarap lahan yang dimilikinya pada saat musim hujan saja. Selama musim kemarau para petani lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan-kegiatan lain, yang sifatnya tidak produktif. Tata nilai masyarakat yang memandang rendah profesi “berburuh” atau bekerja upahan, menyebabkan para petani di Kabupaten Sumbawa lebih senang “menganggur” dari pada harus berburuh.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin