Warek IV UTS: Teknologi Harus Mengenalkan Budaya Tradisional

warek memberi materWakil Rektor IV UTS, M. Iqbal memberikan materi pengembangan seni budaya dan pariwisata

Batu Alang, (20/09/2017)

Camat Moyo Hulu Mulyadi, S.Sos. mengharapkan Pemerintah Daerah Sumbawa memperhatikan banyaknya objek wisata yang dapat digali dan “dijual” di Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu. Hal ini disampaikan saat menjadi pemateri dalam Forum Group Discussion (FGD) sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan Festival Seni Budaya Suar Teja Raboran, Selasa (19/09) di Liang Bukal.

Menurutnya, beberapa objek wisata di Batu Tering sejatinya memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sebut saja Ai Beling yang saat ini menjadi primadona, Liang Bukal, dan Liang Petang sebagai objek wisata serta keberadaan cagar budaya Sarkofagus yang diperkiraan dibuat pada zaman megalitikum, tentu menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

“Target pariwisata saat ini, 3.5 juta. Itu yang menjadi tugas Pemerintah Daerah Sumbawa dan pekerjaan rumah Dinas Pemuda dan Olahraga. Itu akan kita bangun nanti jika hutan tidak ditebang. Itu bisa menghidupkan masyarakat” tuturnya saat memberikan materi.

Ia juga mengharapkan melalui forum yang diagendakan setiap tahun tersebut, dapat memberikan manfaat tidak hanya untuk Moyo Hulu tetapi juga di tingkat yang lebih besar sehingga hasil pemikirin dari pecinta seni dan budayawan yang diundang dapat disumbangkan kepada Pemda Sumbawa.

foto bersama perserta STR

Keprihatinan juga disampaikan Wakil Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) pada kesempatan sama, menyoroti pengaruh budaya terhadap pariwisata, juga mengharapkan kepada peserta festival yang hadir agar budaya teknologi yang berkembang saat ini juga digunakan untuk mengenalkan budaya tradisional kepada dunia.

Budaya Sumbawa saat ini sudah mulai memudar, kesimpulan tersebut dapat dinilai dari sedikitnya minat siswa-siswa mengunjungi musium. Hal ini, lanjutnya, perlu didorong untuk meningkatkan kecintaannya kepada budaya Sumbawa agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak tergerus oleh zaman.

“Kalau teman-teman tidak bisa menulis buku tentang sejarang Sumbawa, minimal teman-teman saat menulis di Medsos, misalkan saat bersama keluarga di acara Tokal Adat menulis juga, Tokal Adat itu adalah bla.. bla.. bla.. Agar masyarakat lain juga mengerti.” pungkas sosok yang akrab dengan sebutan Iqbal Sanggo dan dikenal juga sebagai seniman tersebut.

Randal Patisamba selaku Ketua Panitia Festival Suar Teja Raboran 2017 mengungkapkan festival tersebut merupakan kedua dan bertujuan melestarikan nilai-nilai seni, budaya, dan pengembangan kepariwistaan yang dilaksanakan dalam satu rangkaian kegiatan guna mendukung pemerintah mengembangkan dan membangun kesenian, kebudayaan, dan industri pariwisata.

Suar berarti Cahaya, Teja berarti Pelangi, dan Raboran merupakan tempat atau gunung yang sarat dengan sejarah dan budaya perjuangan masyarakat pada zaman dahulu membela kemerdekaan. Festival tersebut diimplementasikan sebagai cahaya penuh warna yang diharapkan mampu memberi inspirasi dan semangat berkreasi dan berkarya bagi seluruh masyarakat Samawa khususnya Kecamatan Moyo Hulu. (a/n).

humas.pr.uts@gmail.com

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin