Perubahan Komposisi Protein Air Susu Ibu pada Periode Eksklusif

Oleh: Ratna Nurmalita Sari, STP, MSc
Dosen Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Teknologi Sumbawa
 
Air susu ibu (ASI) merupakan gizi ideal dan standar emas yang diberikan untuk bayi pada 6 bulan pertama. World Health Organization (WHO) menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan dapat dilanjutkan hingga 2 tahun. Dalam periode eksklusif, ASI berfungsi sebagai satu-satunya sumber gizi yang mendukung proses metabolisme dan imunitas anak. Oleh karena itu, perlu dilakukan profiling komposisi ASI eksklusif sebagai pedoman untuk pembuatan alternatif susu formula yang dapat digunakan untuk memenuhi gizi anak jika ASI eksklusif tidak dapat diberikan dengan alasan tertentu seperti alasan kesehatan atau volume yang tidak mencukupi.
ASI sering disebut “tailored by infant needs” karena komposisi ASI bervariasi dari ibu yang satu dengan lainnya. Hal tersebut terjadi karena setiap bayi memiliki kebutuhan gizi yang berbeda dan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti pola konsumsi ibu, kondisi kesehatan, lingkungan tempat tinggal, dan usia bayi. Studi di berbagai negara telah menunjukkan adanya perubahan komponen ASI di dalam periode ASI eksklusif.
Protein merupakan komponen penting ASI yang berperan dalam proses biologis bayi seperti pembentukan sistem imun, antimikroba, dan pertumbuhan. Saat ini, proteomics digunakan sebagai metode yang presisi untuk menunjukan profil protein pada ASI. Metode ini dapat melihat komponen protein ASI baik secara kualitatif maupun kuantitatif menggunakan metode kromatografi dan spektrometri. Hasil kualitatif dianalisis menggunakan database bioinformatik, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan metode statistik

Dalam penelitian yang kami lakukan dengan menggunakan metode proteomics pada 207 sampel ASI yang diambil selama 6 bulan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik pada beberapa protein yang membantu dalam kematangan organ dan imunitas, meliputi dipeptidyl peptidase 1, lysozyme C, carbonic anhydrase 6, dan chordin like protein 2. Lysozyme C menunjukkan adanya peningkatan signifikan dengan pertambahan usia bayi, sementara tiga protein lain menunjukkan penurunan seiring bertambahnya usia. Berdasarkan fungsi biologisnya, chordin like protein 2 berfungsi sebagai penguatan jaringan dan tulang pada bayi, sehingga pada bulan ke-6 kuantitasnya menurun. Adanya peningkatan proporsi lysozyme C berkaitan dengan fungsinya sebagai komponen perlindungan pasif pada bayi di usia akhir periode ASI eksklusif.
Berdasarkan hasil Principal Component Analysis (PCA) didapatkan adanya kuantitas yang tinggi pada alfa lactalbumin, alfa casein, carboxyl ester lipase, lactoferrin, beta macroglobulin, dan immunoglobulin A pada bulan awal menyusui. Beta macroglobulin, immunoglobulin A, dan lactoferrin yang berperan dalam respon antibakteri humoral. Hal ini menunjukkan pentingnya ASI pada awal periode menyusui untuk membantu imunitas bayi yang belum sempurna saat pertama kali lahir. Carboxyl ester lipase merupakan enzim kunci dalam metabolisme lemak sebagai subtitusi lipase pankreas yang belum terbentuk sempurna. Sebagai sumber energi utama di ASI, metabolisme lemak sangat dibutuhkan untuk meningkatkan berat badan bayi.
Adanya perubahan pada beberapa komponen protein dalam periode ASI eksklusif sebaiknya dipahami bagi ibu menyusui agar sebisa mungkin memberikan ASI sesuai dengan anjuran WHO agar anak dapat mendapatkan gizi yang sesuai dengan usia pertumbuhannya. Selain itu, komposisi ASI juga sesuai dengan kondisi pencernaan bayi yang masih perlu pematangan untuk mencerna sumber makanan lain untuk menghindari ketidaknyamanan pada perut bayi, seperti perut kembung dan diare. Di samping itu, ASI mengandung komponen imunitas yang dapat memberikan perlindungan bayi dari berbagai patogen.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin