UTS dan BPPD NTB sepakat untuk menciptakan iklim campuspreneurship

Entrepreneurship kini menjamur dengan banyak pemain utamanya adalah kalangan muda. Dalam penerapannya, wujud nyata dari entrepreneur ini lebih dikenal dengan istilah startup yg kini menjadi salah satu output dari pembelajaran di kampus kampus. Universitas Teknologi Sumbawa sebagai kampus berbasis teknologi tentu memiliki peluang besar dalam menciptakan startup berbasis teknologi dari para civitas akademik nya. Dalam kunjungan
Kunjungan Wakil Rektor III Bid. Riset dan Inovasi ke Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi NTB, salah satu pokok bahasannya adalah mengenai campuspreneurship ini dengan memanfaatkan potensi wisata dari desa desa yg ada Di Sumbawa untuk dipromosikan dalam bingkai digital startup. Tentu tujuan nya adalah agar sustainability dari program UTS di desa dapat terus dilakukan dan dikenalkan ke seantero negeri. Kunjungan ke BPPD (13/9/2021) disambut baik oleh Tim BPPD, Bapak Ari Garmono selaku Kepala BPPD didampingi oleh Bapak Askar Daeng Kamis, Ibu Lia Rosida, dan Ibu Leja Kodi.

Dalam diskusi singkat ini, Tim UTS mendapatkan banyak sekali informasi terkait perkembangan Start Up Digital di NTB terutama terkait promosi wisata.

“Fokus kami saat ini adalah bagaimana pengembangan bisnis model dalam bentuk digital dan rencana kami adalah untuk membuat gerakan 1000 digital start-up di NTB, mengingat NTB sangat kurang dalam bidang ini” ujar Pak Askar.

Pemaparan tersebut disambut antusias oleh Warek III UTS, mengingat dibawah kepemimpinan beliau ada satu sub-direktorat Inkubasi Teknologi yang sedang di garap di UTS.

“Kami di Bidang Riset dan Inovasi ingin berfokus kepada pembentukan Entrepreneur di wilayah UTS” ujar Pak Umam.

Hal tersebut disetujui oleh Pak Askar, dimana beliau menjelaskan seberapa pentingnya digitalisasi terutama di masa pandemi seperti ini. Bagi beliau, untuk mengembangkan suatu sistem tidak harus menjadi orang yang ahli dibidang IT, tapi harus orang-orang yang memang memiliki kemauan untuk belajar. Konsep digitalisasi di bidang ekonomi dan pariwisata yang saat ini beliau dan tim kembangakan, telah membantu mendongkrak promosi Pariwisata NTB.

“Di era digital saat ini, saat semua informasi sangat mudah di peroleh, persaingan secara materi pun sangat tinggi. Sehingga Kita harus bisa melihat Dan memanfaatkan peluang” imbuhnya.

Penurunan pendapatan dari segala aspek baik aspek jual beli, pelayanan maupun pariwisata tidak lepas dari dampak COVID-19. “Di Masa seperti ini, Kita semua diminta untuk berpikir kritis bagaimana cara agar Kita bisa survive” tambah Bu Leja.

Dalam diskusi interaktif tersebut, pihak BPPD banyak memberikan gambaran terkait pentingnya peran developer dalam mendongkrak perekonomian di sistem yang serba online seperti saat ini. Juga bagaimana pengembangan pariwisata kedepannya, dari sudut pandang entrepreneur.

“Jangan mengukur desa Wisata dari sudut pandang kita, tapi dari pasar. Oleh sebab itu perlu riset dan pasar kita itu ada di luar potensinya besar, seperti USA, negara2 Eropa dll. Semua desa bisa di kembangkan karena Kita Membangun ekonomi berbasis kebudayaan. Harus ada inisiasi untuk itu, Dan saat ini masih jarang dibicarakan” tambahnya.

Pak Askar sendiri sudah bergerak di bidang digital sejak 2019, Dan menjadi master planner yang sering mengisi kegiatan-kegiatan terkait Kewirausahaan di Luar negri. Begitu pula dengan Tim beliau, Bu Lia yang menjadi dosen tamu di beberapa Universitas di Malaysia.

Dalam diskusi tersebut, Warek III UTS memberikan penjabaran terkait program Merdeka yang juga fokus pada pengembangan desa wisata Dan Desa budaya.

“Ada banyak Hal yang dapat Kita sinkronkan, seperti Desa Wisata yang menjadi salah satu tema unggulan dari Program Merdeka, juga Start Up untuk mahasiswa agar saat Lulus mereka sudah memiliki usaha. Kami pun saat ini sudah memiliki lembaga Career development center (CDC) yg concern di bidang penyiapan mahasiswa pasca lulus untuk berkarir, Baik wirausaha maupun dunia industri” ujar Pak Umam.

Tim BPPD menyarankan untuk Pihak UTS juga melakukan diskusi lebih lanjut dengan Sekolah Tinggi Pariwisata karena ada kesamaan program terkait desa Wisata yang sinkron dengan Program Merdeka dan nilai campuspreneur yg ingin diwujudkan.

Tim BPPD memberikan masukan bahwa untuk menuju ke tahap campuspreneur maka perlu upaya sejak dini mereka dikenalkan dg startup, mahasiswa dalam hal ini perlu ada wadahnya baik UKM atau yg lainnya. Harapannya, setelah Lulus sudah menjadi start up yang siap untuk bersaing” tambah Pak Askar.

Diskusi tersebut diakhiri dengan kesiapan BPPD dalam mendukung program UTS terutama yang terkait di bidang promosi Dan pariwisata Daerah, serta program pembentukan Start Up untuk menyokong perekonomian Daerah maupun Provinsi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin