Wujudkan Rencana Pembuatan Motor Listrik, UTS Datangkan “Si Putra Petir”



IMG-20200227-WA0298-500x330 (1)Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) memiliki rencana besar yakni mampu memproduksi kendaraan listrik. Rencana besar ini sebagai upaya untuk menjadikan kampus yang berada di kaki Bukit Olat Maras tersebut membumi dan mendunia. Mengawali rencana ini, Kampus Elang—sebutan UTS, mendatangkan Ricky Elson. Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat 40 tahun silam itu dijuluki “Si Putra Petir”. Sebab teknokrat Indonesia ini ahli dalam teknologi motor listrik dan dianggap sebagai pelopor mobil listrik nasional. Lulusan terbaik pendidikan tinggi di Jepang tersebut telah menemukan belasan teknologi motor listrik yang sudah dipatenkan di Negeri Sakura. Ia pun rela meninggalkan segala kemewahannya di Jepang untuk mengabdi kepada bangsa dan negaranya setelah diminta pulang oleh Dahlan Iskan yang saat itu menjabat Menteri BUMN untuk mengembangkan teknologi mobil listrik. Kini pria berambut panjang yang sempat DO dari Universitas Andalas ini, hadir di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) untuk mengisi Kuliah Umum Revolusi Industri 4.0, Transportasi Ramah Lingkungan, sekaligus melaunching Team Motor Listrik “NGEBUTS”. Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Publik Kreatif, Kamis (27/2/2020) ini dihadiri ratusan mahasiswa Fakultas Teknik.

Dengan style yang santai dan hangat, Si Putra Petir mampu menghipnotis para mahasiswa dengan kisah hidupnya yang dinamis dan sangat inspiratif. Bagaimana dia menempuh pendidikan dalam kondisi ekonomi sangat pas-pasan dan keluarga yang broken home. Bahkan dia pernah terlibat dengan hal-hal yang berbau kriminal. Berkat dorongan gurunya dan dukungan orang-orang di sekitarnya, dia kembali bangkit. Termasuk ketika gurunya memintanya untuk mengikuti tes beasiswa kuliah ke Jepang. “Jika engkau tidak ingin menyusahkan orang lain, jadilah orang besar,” kata Ricky mengutip nasehat guru panutannya, Bu Asna Jafar. Sebagai siswa yang dikenal cerdas dan menyandang juara umum di SMA Negeri 5 Padang, Ricky melewati test itu dengan mudah. Dari ribuan yang mengikuti test, enam orang dinyatakan lulus dan mewakili Indonesia. Salah satunya Ricky Elson. Dari sinilah, dia memasuki fase baru dalam hidupnya dan bersemangat untuk mengejar cita-cita menjadi perancang mesin F-1. Karena itu Ia mengambil teknik mesin di Politeknik University. Kuliah di Jepang, Ricky membawa dua misi. Yaitu sebagai utusan negara yang jika dia lemah maka setiap saat ada jutaan anak muda di Indonesia yang siap menggantikannya. Karena itu dia harus menjadi wakil negara yang terbaik. Misi kedua sebagai wakil keluarga. Ketika dia meninggalkan rumah, ibunya tidak memiliki pekerjaan, ayahnya mendekam di penjara dan nasib pendidikan adik-adiknya tidak jelas. Diapun bertekad dua misi ini harus hidup dan tuntas. Ketika hari pertama penerimaan mahasiswa baru, hari itu juga dia melamar pekerjaan di pabrik. Sebagai penerima beasiswa dari Jepang, tentu pihak pabrik enggan untuk menerimanya. Setelah diyakinkan dan keberanian Ricky memberikan jaminan akan mengembalikan gaji yang diterima jika tidak bisa menjadi yang terbaik di kampus. Ricky kuliah dari pukul 9 pagi sampai 6 sore, lanjut bekerja dari pukul 8 malam sampai 4 subuh. Itu berlangsung setiap hari. “Di kampus saya belajar teori mechanical engineering  dan di pabrik saya praktek mechanical engineering. Di sana saya ditempa oleh dua kehidupan,” kenangnya.

Mengingat waktunya di kampus sangat sedikit, Ia pun memanfaatkannya sebaik mungkin. Dia tidak ingin menjadi orang yang merugi dan celaka, dengan menjadikan hari ini sama dengan hari kemarin, dan hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Ia ingin menjadi orang yang beruntung dengan menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dengan tekad yang membaja ini, akhirnya dia lulus menjadi mahasiswa terbaik.

Ricky mengakui sebagai mahasiswa teknik mesin, sebenarnya kurang menyukai mata kuliah yang berbau listrik. Setelah lulus dengan IPK 4, dia justru dibawa ke perusahaan mesin-mesin listrik yang tidak diminatinya. Tiga bulan pertama membuat dia ingin berhenti, karena sampai saat itu belum diberikan pekerjaan, dan terbayang bahwa cita-citanya menjadi perancang mesin F-1 tidak akan tercapai. Dengan kondisi putus asa, dia dipanggil Profesor Kenjo yang prihatin melihat semangatnya menurun. Karena Profesor ini mengenal Ricky sebagai pemuda yang gigih, dan pantang menyerah. Prof Kenjo mengatakan bahwa cita-citanya akan tercapai jika dia mampu menguasai aturan tangan kiri. Menurut Profesor kharismatik tersebut, aturan tangan kiri adalah tentang bagaimana menggerakkan dunia 50—100 tahun ke depan. Mulai dari alat untuk membersihkan gigi, pisau cukur otomatis, jantung buatan, alat bantu pernapasan, robot, tangan robot, mesin peras kelapa, kapal listrik, tank listrik, dan mobil listrik, semuanya bergerak dengan aturan tangan kiri. “Jika engkau menguasai aturan tangan kiri, engkau akan menjadi penggerak dunia,” ujarnya meniru kata-kata Prof Kenjo, yang memunculkan semangatnya untuk bangkit.

Prof Kenjo melanjutkan tentang “aturan tangan kanan”. Jika “aturan tangan kiri” menggerakkan dunia, maka “aturan tangan kanan” untuk menerangi dunia, ucap Prof Kenjo. Mulai dari pembangkit listrik tenaga air, tenaga angin, tenaga diesel, tenaga uap, tenaga nuklir, pembangkit listrik tenaga arus laut yang bisa dipasang di Selat Alas, pembangkit listrik tenaga ombak yang bisa dipasang di sepanjang pantai selatan Sumbawa, selagi masih menggunakan elektro magnetic generator, itu bergerak dengan aturan tangan kanan. “Jika engkau menguasai aturan tangan kiri engkau akan menggerakan dunia, jika engkau menguasai aturan tangan kanan engkau menjadi penerang dunia. Begitu kata-kata Prof Kenjo. Saya pun langsung minta diajarkan dua-duanya sehingga mampu menggerakkan sekaligus menerangi dunia,” kata Ricky.

Terakhir, Ricky berpesan kepada para mahasiswa UTS tentang tiga hal. Pertama, tidak menunda-menunda pekerjaan, segeralah mengerjakannya. Kedua, jika sudah mengerjakannya, dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Ketiga, kerjakanlah hingga tuntas. “Adik-adik mahasiswa, kalian juga harus punya tekad, kuliah di UTS ini diselesaikan dalam waktu 4 tahun kalau bisa lebih cepat, kuasai semua ilmunya, bikin network dengan dosen-dosennya, bangun start-up dan entrepreneur, dan merdekakan bangsa kalian. Ilmu boleh terbatas, harta boleh terbatas, dan fisik terbatas, tapi yang tidak boleh adalah semangat,” pungkasnya.

Rektor UTS, Dr. Chairul Hudaya mengatakan bahwa kehadiran Ricky Alson sangat bermanfaat, tentu saja untuk transfer ilmu pengetahuan. Ricky memiliki banyak pengalaman di Jepang bagaimana membuat motor listrik dengan efisiensi yang tinggi dan hemat listrik. Semua ilmu tersebut ada pada diri Ricky. “Dan kita siap menyerap ilmunya itu, apalagi beliau sudah bersedia untuk datang ke UTS minimal sebulan sekali untuk melihat progress-progresnya. Kemudian untuk memberikan masukan. Kesempatan ini tak boleh disia-siakan dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin,” tandasnya.

 


Berita ini pertama kali terbit pada samawarea.com

Share This:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *